Antisipasi Perubahan Harga BBM

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan segera dilaksanakan dengan sistem satu harga. Hal ini disampaikan Presiden bersamaan dengan acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional pada Selasa (Batampos, 30/4) lalu.
Keputusan ini adalah hasil rapat terbatas membahas rencana kenaikan harga BBM bersubsidi di Istana Negara hari Senin (29/4) menanggapi usulan sistem dua harga BBM. Rencana perubahan sistem harga BBM bersubsidi telah mungundang banyak pendapat, baik yang pro maupun yang kontra.
Penerapan sistem dua harga akan menguntungkan rakyat kecil. Konsumsi Premium hampir seluruhnya dipakai untuk kendaraan darat (99,76 persen). Rinciannya 45 persen digunakan oleh mobil pribadi, 40 persen sepeda motor, dan sisanya untuk kendaraan komersial. Secara kasar, dapat dilihat bahwa orang – orang kaya lah yang paling banyak menikmati kue subsidi BBM.
Dengan penerapan sistem dua harga, pemilik mobil pribadi tidak akan leluasa mengkonsumsi BBM karena harganya akan mencapai sekitar Rp 6.500,00 per liter. BBM bersubsidi hanya diperuntukan bagi pengguna sepeda motor dan kendaraan umum. Dengan asumsi 35 juta keluarga bermobil menggunakan Premium bersubsidi, pemerintah dapat menghemat anggaran sampai Rp 8,75 triliun per bulan atau Rp 105 triliun per tahun. Anggaran sebesar ini dapat dialokasikan untuk membangun sarana dan prasarana umum seperti perbaikan jalan dan gedung sekolah.
Akan tetapi, menurut Jero Wacik selaku Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, penerapan sistem dua harga akan merepotkan banyak pihak, terutama pemerintah selaku pembuat kebijakan. Selain regulasi yang tidak jelas, sistem dua harga juga akan membuka kesempatan untuk penyalahgunaan. Selisih harga Rp 2.000,00 per liter ukan jumlah yang sedikit. Efek selanjutnya tentu saja kekacauan berebut jatah konsumsi BBM subsidi.
Keseimbangan
Keputusan menaikan harga BBM subsidi harus segera dilakukan. Berkaca dari tahun 2012, subsidi BBM mencapai Rp 211,9 triliun atau 154,2 persen dari pagu subsidi BBM dalam APBN–P 2012 yang mencapai Rp 134,7 triliun. Melihat konsumsi BBM tahun ini yang terus naik seiring naiknya angka penjualan mobil pribadi, anggaran subsidi hampir bisa dipastikan bengkak.
Total cadangan minyak dunia kini tinggal 1.652 miliar barrel (2011). Venezuela (17,9 persen) menyimpan cadangan paling besar dengan 296,5 miliar barrel setelah negara – negara Timur Tengah yang punya 795 miliar barrel (48,1 persen). Indonesia hanya punya 2 persen atau sekitar 3,6 miliar barrel dari total seluruh cadangan minyak dunia. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2030 mencapai 290 juta jiwa, persaingan dengan Cina dan India demi menjamin pasokan energi (minyak) tidak tersendat tidak dapat dihindari.
Pemerintah perlu memperhatikan keseimbangan konsumsi BBM dan produksi BBM dalam negeri. Indonesia kini tidak sama dengan Indonesia dimasa keemasan tahun 1995 yang dapat memproduksi 1,6 juta barrel per hari (bph). Sejak keluar dari OPEC tahun 2008 lalu, impor minyak Indonesia terus meningkat.
Tepat Sasaran
Kenaikan harga BBM, sekecil apapun akan membawa resiko inflasi. Perubahan harga BBM sudah pasti akan mengerek naik harga barang – barang lain, terutama barang kebutuhan pokok. Kenaikan harga BBM harus disikapi dengan teliti. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pernah diberikan pada tahun 2005, 2006 dan 2008 sebagai bentuk perlindungan terhadap rakyat miskin terbukti tidak efektif. Jika pemerintah memutuskan menaikan harga subsidi BBM, sudah sewajarnya penghematan anggaran dialokasikan untuk kesejahteraan orang banyak, terutama rakyat miskin.
Pertamina sebagai perusahaan yang pengelola migas juga harus segera berbenah. Dibandingkan dengan perusahaan lain seperti Petronas (Malaysia) yang menyumbangkan 70 persen labanya sebagai investasi perusahaan, Pertamina hanya memberi 5 persen dari total laba. Artinya, Pertamina tidak memperhatikan investasi untuk masa depan.
Selain mempersiapkan diri menghadapi sumber minyak yang semakin kritis, pemerintah perlu memperhatikan pula investasi masa depan. Perbaikan sarana akan mempermudah pengeboran sumber minyak baru dan menunda krisis BBM yang akan segera terjadi. Dengan memperhatikan harga BBM bersubsidi, perlindungan rakyat miskin dari kenaikan harga BBM, inflasi, dan investasi masa depan, perubahan harga BBM dapat menerbitkan secercah harapan menyongsong Indonesia yang lebih baik.

Luki Setyawan
Mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Institut Pertanian Bogor