Mari Kita Bedah Desa

Minggu [26/05] Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (BEM FEMA), Institut Pertanian Bogor mengikuti acara Grand Opening Bedah Desa yang dilaksanakan oleh I-Share BEM KM IPB di Ruang Sidang Student Centre. Acara Grand Opening tersebut dihadiri oleh Bapak Iyan dan Ibu Min dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) IPB sebagai juri dari penilaian proposal Bedah Desa. Selain itu, acara ini dihadiri juga oleh pihak Dr. Rimbawan, Direktur Kemahasiswaan IPB. Kegiatan ini sekaligus sebagai pembukaan secara resmi untuk melepas 4 tim bedah desa yang lolos seleksi proposal dan administratif, termasuk proposal Bedah Desa yang diajukan oleh BEM FEMA yang mendapatkan perolehan nilai tertinggi. Dalam acara tersebut, BEM FEMA berkesempatan untuk mempresentasikan program yang diajukan. Tempat yang menjadi sasaran dari program Bedah Desa BEM FEMA adalah di RW 01 Desa Purwasari.

Pembukaan dilakukan secara simbolis melalui penyematan nametag dan pengguntingan pita oleh Pak Iyan sebagai simbol untuk memulai kegiatan bedah desa. Kegiatan ini sekaligus melepas tim bedah desa untuk melaksanakan program pertama kali di desa lokasi kegiatan. Tim dari BEM FEMA yang terdiri dari 7 orang berangkat ke Desa Purwasari tepat pukul 13.00 menggunakan sepeda motor yang didampingi oleh panitia. Perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit.

Agenda pertama dari Tim Bedah Desa BEM FEMA meliputi perkenalan, pendekatan dengan warga RW 01 Desa Purwasari, dan mencoba menawarkan solusi masalah sampah yang sebelumnya sudah diidentifikasi bersama dengan masyarakat. Diskusi dengan warga dilaksanakan di kediaman Bapak Ujang Sulaeman, Ketua RW. 01 Desa Purwasari. Jumlah partisipan dalam diskusi ini sebanyak 25 orang yang merupakan perwakilan dari masing-asing Rukun Tetangga (RT) meliputi RT 01-RT 05. Pada diskusi ini diupayakan untuk membangun partisipasi warga agar mampu menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Topik diskusi diarahkan oleh fasilitator yang berasal dari panitia Bedah Desa FEMA, yaitu mengenai sampah.

Hasil diskusi menunjukkan bahwa beberapa warga mengeluhkan fakta belum adanya mekanisme pengangkutan sampah, sehingga terjadi penumpukan sampah. Hal ini memberikan dampak yang lebih besar yakni terjadinya banjir akibat sampah yang meluap dari sungai. Selanjutnya fasilitator menawarkan solusi menggunakan sistem perelek (adopsi dari bentuk iuran). Inisiasi ini disambut baik oleh warga setelah sebelumnya melewati proses pemahaman bersama. Warga pun mengusulkan untuk mendistribusikan informasi kepada warga lain melalui pertemuan pengajian. Setelah diskusi ini, akan kembali dilaksanakan diskusi selanjutnya untuk melakukan tahapan perncanaan.