Panduan KERIS 2013

Kemah Riset (KERIS) 2013
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia
 
. Pendahuluan
Perguruan Tinggi merupakan subjek yang diwajibkan menerapkan “Tiga Pilar” kehidupan dalam proses pembelajaran. Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat menjadi kunci pembelajaran yang diterapkan setiap universitas, salah satunya Institut Pertanian Bogor. Fakultas Ekologi Manusia sebagai salah fakultas yang memiliki konsentrasi pada ketiga pilar tesebut, selalu menerapkan dalam setiap kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilaksanakan pada akademik saja, tetapi pada kegiatan non akademik pun dilaksanakan, seperti kegiatan kemahasiswaan.
Mahasiswa sebagai seorang akademisi diharuskan memiliki kemampuan dalam melaksanakan riset/penelitian. Penelitian menghasilkan berbagai data maupun informasi mengenai isu-isu menarik yang sedang berkembang, salah satunya isu yang berkitan dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Kaitannya dengan hal tersebut, mahasiswa khususnya mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat. Interaksi perlu dibangun untuk memahami kondisi masyarakat maupun fenomena sosial lainnya.
Masyarakat desa memiliki karakteristik yang khas dibanding dengan masyarakat perkotaan. Karakteristik yang terbentuk juga berbeda pada tiap desa di daerah tertentu. Hal ini berkaitan dengan pengaruh lingkungan maupun budaya yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat desa. Pelaksanaan penelitian memiliki beberapa catatan penting yang harus diperhatikan agar mampu mencapai tujuan penelitian dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat lokasi penelitian.
Kegiatan Kemah Riset (KERIS) 2013 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (BEM FEMA) memberikan wadah bagi mahasiswa FEMA untuk mengembangan softskill dalam bidang riset serta meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap kondisi masyarakat yang sedang berkembang. Riset yang dikembangkan akan dibukukan dalam sebuah hasil riset/penelitian agar dapat digunakan sebagai salah satu referensi ataupun informasi yang nantinya berguna bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
 
. Metode
Penelitian akan dilakukan di Desa Pangumbahan, Jawa Barat pada tanggal 14-15 September 2013. Sasaran penelitian adalah masyarakat desa yang menerima dampak dari penetapan daerah konservasi penyu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada informan dan observasi lapang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara yang mendalam dengan para responden dan informan. Data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur dan berbagai pustaka untuk menganalisis femomena yang timbul.
 
. Wawancara
Salah satu metode pengumpulan data ialah dengan jalan wawancara yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden. Namun pada pelaksanaan Kemah Riset (KERIS) 2013 ini menggunakan istilah informan yang berbeda dari responden. Perlu diketahui bahwa antara pewawancara dengan informan dimungkinkan terdapat berbagai perbedaan karakter sosial meliputi status, tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lainnya. Hal ini tentunya menjadi faktor yang mempengaruhi dalam kegiatan pencarian data. Oleh karena itu berikut beberapa pedoman dalam melakukan wawancara:
1. Berpakaian sederhana, rapi, tanpa perhiasan
2. Sikap rendah hati
3. Sikap hormat kepada responden
4. Ramah dalam sikap dan ucapan
5. Sikap penuh pengertian terhadap responden dan netral
6. Bersikap seolah-olah tiap responde yang kita hadapi selalu ramah dan menarik
7. Sanggup menjadi pendengar yang baik
 
Selain pedoman di atas terdapat berbagai hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan wawancara meliputi:
1. Memperkenalkan diri
Status sebagai mahasiswa biasanya menempati posisi yang dihargai pada masyarakat pedesaan. Namun tidak juga masyarakat pedesaan memiliki pandangan lain terhadap masuknya orang lain yang berasal dari luar komunitas. Hal ini wajar karena masyarakat terkadang memiliki sifat curiga terhadap orang baru. Untuk itu peneliti perlu memperkenalkan diri serta maksud dan tujuan kedatangan ke lokasi penelitian.
2. Pelajari karakteristik masyarakat sasaran sebelum melakukan wawancara
Hal ini penting dilakukan untuk memahami karakteristik meliputi kondisi geografis, ketersediaan sumber daya alam, budaya yang berkembang, mata pencaharian, maupun informasi-informasi lain menyangkut potensi dan permasalahan yang ada di wilayah penelitian. Dengan mengetahui informasi awal maka memudahkan pewawancara untuk memulai pertanyaan.
3. Menggunakan percakapan/bahasa setempat
Bahasa penting sebagai alat penyampaian pesan kepada informan. Dengan menggunakan bahasa setempat (pilih bahasa sehari-hari yang biasa digunakan dalam percakapan ringan) mampu membangun kedekatan dengan informan.
4. Pemilihan kalimat maupun kata
Dalam melaksanakan wawancara, hindari kata atau kalimat yang dianggap kurang dimengerti oleh masyarakat setempat, misalnya kata asing atau kata yang berhubungan dengan teori. Apabila menemukan kasus seperti ini, pewawancara dapat mengganti dengan kata yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami oleh informan. Selain itu penting juga memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sensitif seperti pendapatan, maka dapat dicari tahu dengan cara lain misalkan bagi nelayan dihitung hasil tangkapan ikan pada periode tertentu.